Pekerja Sosial Tuban

masalah sosial – pekerjaan sosial – ilmu sosial

Surti Bukan Orang Gila

Setelah menyelesaikan suatu urusan di Tuban, Surti (bukan nama sebenarnya) bergegas ingin pulang. Agak lama menunggu kendaraan Angkutan Kota yang menuju ke arah terminal Bus, Surti  lantas duduk di trotoar, mungkin saja capek. Kemudian brakkk… brakkk… brakkk…, Surti melempari Tarno si Tukang Becak yang ada di depannya dengan batu, untung saja tidak mengenai tubuh Tarno, lemparan batu Surti hanya mengenai Becak milik Tarno.

Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, teman Tarno yang berada tidak jauh dari Tarno, mencoba menghubungi Petugas Keamanan. Sesaat kemudian datang satu mobil Petugas Keamanan, kira-kira ada 5 orang. Setelah turun dari kendaraan Pak Petugas Keamanan menangkap Surti dan tangan Surti di borgol, dinaikkan ke atas mobil kemudian di bawa ke Kantor Dinas Sosial.

Sampai di Kantor Dinas Sosial kira-kira waktu menunjukkan jam 16.00 WIB pegawai sudah pada pulang. Karena hari ini adalah Jumat,  jam pulang kerja adalah jam 14.30 WIB. Untung saja masih ada satu pegawai yang belum pulang, karena masih menyelesaikan satu pekerjaan. Diterimalah Bapak-bapak Petugas keamanan tersebut oleh Pegawai Dinas Sosial.

“Selamat Sore Pak”, Bapak Keamanan mengucapkan salam.

“Sore………. Silahkan duduk Pak !!! Ada yang bisa kami bantu”, jawab Pegawai Dinas Sosial.

“Ini Pak …. Saya mau menyerahkan orang gila, tadi ngamuk dan melempari tukang becak dengan batu, takut terjadi sesuatu orangnya saya borgol” Pak Petugas Keamanan mencoba menjelaskan kronologisnya.

“Oh… ya… sebentar Pak ya, saya akan menghubungi Petugas yang menangani”, Jawab Pegawai Dinas Sosial.

Lantas Pegawai Dinas Sosial menghubungi Petugas yang menangani, setelah telepon tidak ada jawaban, lantas Pegawai Dinas Sosial menghubungi Kepala Bidang Sosial, setelah di telepon sampai tiga kali tidak ada sahutan, Bapak Keamanan berinisiatif menurunkan Surti dari mobil dan berencana mengikatnya di sebatang pohon Palm. Tiba-tiba HP pegawai Dinas Sosial berdering, ternyata dari Bapak Kepala Bidang.

“Ada apa???”, Tanya Bapak Kepala Bidang singkat.

“Ini Pak … ada Bapak-bapak Petugas Keamanan datang membawa orang gila”, jawab pegawai tersebut.

“Ya tunggu sebentar”, sahut Bapak Kepala Bidang terus telepon ditutup.

Bapak-bapak keamanan sudah menurunkan surti dari mobil dan membawanya ke halaman belakang Kantor. Pegawai Dinas Sosial membuntuti dari belakang, mungkin kasihan kalau-kalau Surti jadi diikat di pohon Palm  oleh Bapak-bapak Keamanan.  Pegawai Dinas Sosial lantas mendekati Surti, kemudian:

“Sampean (Kamu) ngamuk apa tidak? Kalau ngamuk, kamu nanti akan diikat di pohon Palm”, Tanya Pegawai dinas Sosial.

“Tidak Pak…… tidak….. saya ngamuk tadi itu karena saya digoda oleh Tukang Becak, karena orang itu menggoda terus aku jadi jengkel, akhirnya orangnya saya lempari batu”, jawab Surti sambil menangis kesakitan karena tangannya nyeri habis di borgol dan menunjukkannya ke arah Pegawai Sosial tersebut.

“oalahhhhhh….”,  sahut Pegawai Dinas Sosial sambil memegangi pundak Surti dan membimbingnya masuk ke dalam kantor,  diambilnya segelas air dari ruang Kepala Bidang tanpa permisi, kemudian diberikan kepada Surti, dengan harapan hatinya Surti bisa tentram kembali.

Sehabis minum

“Sampean (kamu) bawa KTP apa tidak?, tanya Pagawai Sosial.

Surti tidak menjawab, tetapi dia mengambil dompet dari balik bajunya dan mengeluarkan KTP untuk ditunjukkan ke arah Pegawai Dinas Sosial.

“Ah… berarti orang ini tidak gila, cuman lagi apes saja” Pegawai Dinas Sosial berkata dalam hati sambil menunjukkkan KTP tersebut ke Bapak Kepala Bidang yang baru saja datang.

“Terus kamu mau ke mana?”, Tanya Kepala Bidang.

“Pulang ke Madiun Pak”, jawab Surti.

“Katanya ke Semarang” sahut Bapak Keamanan.

“Tidak Pak, saya mau pulang ke Madiun, Bapak ini kasar tanganku di borgol, sakit sekali”, Surti menyahut dengan sengit.

“Sudah makan apa belum?”, Kepala Bidang bertanya lagi.

“Belum Pak”, jawab Surti

Setelah Bapak-bapak keamanan pamit, kemudian Bapak Kepala Bidang mengantar Surti naik Bus ke jurusan Jombang (karena untuk sampai ke Madiun, yang paling dekat adalah lewat Jombang.

“Ayo naik!!! Nanti aku kasih uang makan dan ongkos naik Bus”, ajak Bapak Kepala Bidang.

Surti naik ke motor dan Bapak Kepala Bidang keluar dari halaman kantor.

Keesokan harinya Bapak Kepala Bidang bercerita:

“Sewaktu aku ngantar surti, kepergok tetangga rumah, takut terjadi salah paham, akhirnya aku jelaskan bahwa perempuan ini adalah orang terlantar yang akan aku pulangkan ke daerah asal, yaitu Dlopo, Madiun”, katanya.

“Begitulah resiko pekerjaan, mau bagaimana lagi”, sahut salah satu staf.

Mei 13, 2011 - Posted by | Masalah Sosial | ,

2 Komentar »

  1. Mas, melihat cerita ini, saya jadi bangga. Orang di dinas sosial ini dapat memanusiakan manusia.
    Saya jadi belajar banyak,,🙂

    Komentar oleh Joko Setiawan | Juli 20, 2011 | Balas

    • Tahan beberapa saat sebelum tindakan itu dilaksanakan.

      Komentar oleh peduliku | Juli 22, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: