Pekerja Sosial Tuban

masalah sosial – pekerjaan sosial – ilmu sosial

Nenek Sumi Terdampar di Panti Jompo

Nenek Sumi di masa mudanya termasuk orang yang rajin bekerja. Setelah menikah dengan Kakek Ardi seorang wiraswasta, mereka kemudian membeli kios di pasar. Di kios inilah mereka menghabiskan seluruh waktu kerjanya, karena kios ini menjadi satu-satunya sumber mata pencaharian mereka. Tidak terasa Nenek Sumi telah memiliki 4 orang anak, 3 laki-laki dan 1 perempuan. Nenek Sumi dan suami mendidik anak-anaknya dengan sabar, telaten dan penuh tanggung jawab. Buktinya dengan kios yang kecil itu mereka mampu membeli rumah dan sekaligus mampu membiayai sekolah ke 4 anaknya sampai ke perguruan tinggi.

Adalah suatu kebanggaan bagi keluarga ini setelah mampu menyelesaikan biaya pendidikan anak-anakya di perguruan tinggi, Nenek Sumi dan Kakek Ardi sebagai orang tua yang sangat sayang kepada anak-anaknya telah mampu menghantarkan anak-anaknya ke jenjang pernikahan. Sungguh suatu pencapaian keberhasilan yang luar biasa mengingat kalau ditilik dari sumber mata pencaharian mereka yang hanya mengandalkan kios kecil di pasar itu. Keempat anaknya juga sudah bekerja semua, hanya saja dari keempat anaknya tersebut berada di kota lain yang cukup jauh, ini berarti tak seorangpun dari anaknya yang tinggal bersama Nenek Sumi.

Kecintaan Nenek Sumi dan Kakek Ardi terhadap anak-anaknya tak pernah berkurang, mereka bisa menjenguk sewaktu-waktu bergiliran dari anaknya yang satu ke anaknya yang lain, sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya oleh Nenek Sumi dan Kakek Ardi bisa jalan-jalan dari kota yang satu ke kota yang lain, maklumlah karena mereka sibuk dengan pekerjaan apalagi harus menanggung biaya sekolah 4 orang anak, bukanlah hal yang bisa dianggap enteng.

Sampai suatu ketika di sore hari mereka sedang duduk-duduk di teras rumah sambil menikmati kopi hangat . . . “Pak, aku bahagia sekali melihat anak-anak kita sudah berhasil, apalagi kita sekarang bisa jalan-jalan, ach . . . seneng banget”, kata Nenek Sumi memulai percakapan.
“Bener bu aku sendiri juga merasa puas dengan jerih payah kita selama ini, banting tulang siang malam hanya untuk membahagiakan anak-anak dan kita lihat anak-anak kita sudah berhasil semua, aku juga bersyukur sekali kepada Tuhan yang telah memberi kita kemampuan seperti ini”, sahut Kakek Ardi.
“Tapi bu . . . sebenarnya ada yang menganjal di hatiku”, Pak Ardi melanjutkan pembicaraannya.
“Apa itu pak? merusak suasana saja . . .” sahut Nenek Sumi, dengan nada yang meninggi melihat keanehan suaminya.
“Begini bu . . . aku tetap senang dan bangga dengan keadaan anak-anak kita itu, hanya saja kita ini kan sudah tua alias tidak muda lagi, apa ibu lupa kalau kita habis pergi ke rumah anak-anak sampai di rumah ibu jadi sakit? Kakek Ardi berusaha menjelaskan alasannya.
“Yach . . . sudah resikonya” sahut Nenek Sumi singkat.
“Tapi bener juga Pak . . . kita memang sudah tua, tenaga kita sudah berkurang banyak apalagi kesehatan harus juga kita jaga, tapi mau bagaimana lagi, kenyataannya begitu” Nenek Sumi melanjutkan pembicaraannya.
“Tapi . . . ya sudahlah bu . . ., ayo masuk!” Sahut Kakek Ardi, mengajak istrinya masuk rumah karena waktu sholat maghrib telah tiba.

Rupanya pembicaraan sore tadi di teras rumah ternyata mengusik ketenangan keluarga ini, maklumlah . . . mungkin juga mereka butuh perhatian dari anak-anaknya.
“Bu . . .aku usul, bagaimana kalau kita tidak usah pergi lagi ke rumah anak kita, apakah mereka mau menjenguk kita, ya . . . setidaknya sampai hari raya nanti ”, Kakek Ardi memulai pembicaraan.
“Ya Pak . . . aku setuju, apalagi cucu kita juga libur panjang, cucu kita juga belum pernah kemari, kalau mereka semua berkumpul disini, wah jadi rame rumah kita”, jawab Nenek Sumi.
“Tapi ya di telepon dulu kalau kita tidak bisa pergi ketempat mereka”, pinta Kakek Ardi.
“Ya Pak besok saja aku telepon sekarang sudah malam, aku khawatir mengganggu mereka”, sahut Nenek Sumi.

Tibalah sampai pada hari yang dinantikan, yaitu hari raya Idul Fitri 1423 hijriyah tepatnya delapan tahun yang lalu.
“Bu . . . sini . . . “, teriak Kakek Ardi dari ruang tamu.
“Ya Pak . . “, sahut Nenek Sumi sambil lari-lari kecil mendekati Pak Ardi.
“Ada apa Pak?”, Tanya Nenek Sumi.
“Lo . . . tanya ada apa?, ini tamu sudah pada menunggu lama”, sahut Kakek Ardi.
“Oh iya iya . . . maaf”, jawab Nenek Sumi.

Rupanya Nenek Sumi keasyikan mempersiapkan makanan kesukaan cucunya yang sebentar lagi datang, sampai lupa kalau tamu sudah pada datang bersilaturrahmi.
Sudah tradisi kalau hari raya, orang-orang muda berkunjung terlebih dahulu ke orang yang lebih tua.

Hari sudah menjelang sore anak-anak mereka belum pada datang, membuat Nenek Sumi menjadi tidak sabar menunggu. Akhirnya Nenek Sumi berinisiatif untuk menelepon anak-anaknya, diteleponlah satu-persatu anak-anaknya itu.
Tahukah Anda apa jawab anak-anaknya?
Anak yang pertama menjawab”Mohon maaf ibu aku tidak bisa datang ini cucumu si Rina ngajak ke Bali, sekali lagi mohon maaf bu aku dan keluarga sekarang ada di Bali”.
Anak yang kedua menjawab “Aduh bu . . .mohon maaf, ini menantumu ngajak kerumah orang tuanya dulu, jadi ya nggak bisa datang sekarang”.
Anak yang Ketiga menjawab “Wah bagaimana ini Ibu aku sekarang kena piket di perusahaanku”.
Anak yang ke empat menjawab “Besok-besok saja ya bu, aku sekarang repot sekali tidak jadi ke rumah ibu”.
Seketika itu Nenek Sumi menjadi lemas dan hampir terjatuh, untung saja Kakek Ardi berada disampingnya yang sejak tadi menyimak pembicaraan istri dan anak-anaknya, dengan reflek Kakek Ardi menyambar tubuh Nenek Sumi, terus membimbingnya ke tempat tidur.
“Sungguh hari raya yang suram”, gumam Kakek Ardi.

Sekitar setengah jam kemudian Nenek Sumi sudah mulai siuman, dan Kakek Ardi menyodorkan minuman ke mulut Nenek Sumi dan Nenek Sumi meminumnya beberapa teguk.
Nenek Sumi lantas duduk dan berujar “Aku tidak sudi lagi menelepon anak-anak yang tidak tahu diri itu”.
Sementara Kakek Ardi hanya terdiam sambil memandangi wajah istrinya yang kelihatan kuyu.
Sisa hari-hari hanya dihabiskan mereka berdua seperti awal waktu menikah dulu.
Kebahagiaan yang tidak lama itu telah sirna.
Keluarga ini tidak habis pikir, kenapa anak-anaknya menjadi seperti ini, tidak peduli sama sekali dengan orang tua yang sudah membesarkannya, meraka hanya bisa pasrah, tidak tahu harus berbuat apa?. Kenyataan yang tidak pernah terbayangkan.
Sejak itu tidak ada komunikasi sama sekali, sangat mengherankan.

Kakek Ardi mulai sakit-sakitan.
Di suatu pagi setelah dimandikan Nenek Sumi . . .
“Bu nanti kalau aku mati, jaga dirimu baik-baik ya!”, Kakek Ardi memulai percakapan dengan nada yang sangat lirih untuk ukuran Nenek Sumi.
Nenek Sumi tidak menjawab, hanya bisa memandangi wajah Kakek Ardi, tanpa terasa air mata Nenek Sumi meleleh dipipi. Kemudian mereka berpelukan lama sekali, seakan-akan tidak mau dipisahkan.

Tahun 2005 Kakek Ardi meninggal dunia, Nenek Sumi menangis tak tertahankan.
Setelah meninggalnya Kakek Ardi, Nenek Sumi hidup sebatang kara tidak ada yang menemani. Hari-hari dihabiskan di kios dalam pasar.
Sampai suatu ketika datang kemenakannya, sebut saja Mas Eko
“Bude . . . “, begitulah kemenakannya biasa memanggil Nenek Sumi.
“Ada apa Ko, tumben?”, Nenek Sumi menyahut.
“Daripada sendirian, bagaimana kalau aku temani bersama istri dan anak-anakku, biar Bude tidak repot ngurus rumah, bagaimana?, jawab Mas Eko.
“Kalau kamu mau, tambah seneng aku”, jawab Nenek Sumi.

Sejak saat itu Mas Eko dan keluarganya tinggal bersama Nenek Sumi, semangat hidup Nenek Sumi bangkit kembali. Mereka menjalani hidup dengan wajar dan nyaris tanpa masalah.

Seperti biasa setiap pagi Nenek Sumi masih rajin ke pasar untuk berjualan dan pulang sore. Tetapi hari ini Nenek Sumi pulang lebih awal, setelah mandi kemudian istirahat di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi hangat buatan istri Mas Eko.
Tiba-tiba . . .
“Bude . . . bagaimana kalau kios itu dijual saja”, usul Mas Eko sambil mendekati Nenek Sumi.
“Maksudmu apa Ko?”, jawab Nenek Sumi sambil membalikkan badan.
“Begini Bude . . . Bude kan sudah tua, waktunya istirahat, bude harus jaga kesehatan itu penting Bude”, Mas Eko mencoba menasehati budenya.
“Terus aku kerja apa di rumah, kalau tidak kerja badanku malah sakit semua”, Nenek Sumi beralasan.
“Dirumah kan bisa jaga anak-anak, kalau aku tinggal kerja dan ketika istriku ada di dapur”, jawab Mas Eko.
“Jangan kuatir Bude, nanti aku semua yang mengurus keperluan Bude”, Mas Eko meneruskan pembicaraannya.
“Terserah kamu kalau begitu”, jawab Nenek Sumi pasrah.

Setelah ditawarkan kesana-kemari akhirnya terjadi kesepakatan dengan seorang pembeli, dengan nilai Rp. 50.000.000,00.
“Bude . . . kiosnya sudah laku”, teriak Mas Eko sambil memasuki rumah..
“Ya sudah”, jawab Nenek Sumi singkat.
“Tapi Bude . . . uangnya aku yang bawa ya”, pinta Mas Eko.
“Terus mau kau pakai apa?”, Tanya Nenek Sumi keheranan.
“Ya ditabung . . . di taruh di bank, nanti sewaktu-waktu Bude membutuhkannya gampang tinggal mengambil”, jawab Mas Eko.
“O . . .”, sahut Nenek Sumi dengan perasaan khawatir.

Mas Eko tingkahnya menjadi aneh setelah berhasil menjual kios, sering marah-marah kepada Nenek Sumi dengan alasan yang tidak jelas, parahnya lagi Mas eko menyebarkan isu kalau Nenek Sumi sudah tidak waras lagi, alias gila.

Beberapa waktu yang lalu Mas Eko datang ke Dinas Sosial melaporkan kalau di rumahnya ada orang tua yang numpang dirumahnya sudah tidak waras lagi, tindakannya aneh-aneh dan membahayakan keluarganya. Mas Eko meminta supaya Nenek Sumi ini di kirim ke panti jompo.
Setelah di cek oleh petugas ternyata kondisi Nenek Sumi memenuhi syarat untuk bisa tinggal dipanti jompo. Maka surat-surat segera diurus, setelah hari yang ditentukan tiba, akhirnya Nenek Sumi dibawa ke panti jompo oleh petugas. Proses penyerahan selesai, petugas pamit kepada Nenek Sumi dan berpesan agar jaga diri, jaga kesehatan dan bergaul baik dengan sesama penghuni dan petugas panti. Petugas menjabat tangan Nenek Sumi, Nenek Sumi memegang erat tangan petugas . . .
“Begitulah Nak ceritanya kenapa aku sampai dikirim kesini, aku tidak gila, aku ini waras, Eko itu kemenakanku, itu rumahku, aku diusirnya, tetapi biarlah aku ikhlas dan aku lebih tenang disini” Nenek Sumi mengakhiri ceritanya.

Oktober 14, 2010 - Posted by | Masalah Sosial |

2 Komentar »

  1. cerita sangat mengharukan banget,ya begitulah orang,muda silap harta,sebagai orang tua seharusnya,mengajari anak tuk,menghargai orang tua,smua dah berlalu,dah terjadi,sabarya mbah sumi,klau di balik smua ada btasnya.saya pengen bisa bekerja di oanti jompo bisa menghibur mereka yang sedang sedih.wslm komentar saya.

    Komentar oleh purwaningsih | Mei 27, 2011 | Balas

    • Terimakasih sudah mampir disini, sekedar berbagi saja tentang cerita hidup anak manusia, mungkin bisa jadi inspirasi, dan kalo tertarik kerja di panti jompo, silahkan terlebih dahulu orientasi di sana, banyak hal yang bisa ditarik pelajaran. trims, wasalam….

      Komentar oleh peduliku | Mei 27, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: