Pekerja Sosial Tuban

masalah sosial – pekerjaan sosial – ilmu sosial

Si Miskin Membagi Warisan

Kisah ini terjadi beberapa waktu lalu di salah satu kelurahan Kecamatan Tuban. Ada keluarga yang dikaruniai 9 anak. Sang suami (sebut saja Pak Waru) bekerja sebagai pegawai negeri sipil golongan rendahan dan sang istri (sebut saja ibu Dadap) juga bekerja di instansi pemerintah namun hanya sebagai tenaga kontrak. Keluarga ini tidak memiliki sumber penghasilan lain selain dari gaji untuk menghidupi keluarga dan membesarkan anak-anaknya, sampai mereka pensiun dan membeli sebidang tanah seluas 10 x 8 m² dan didirikanlah sebuah bangunan sederhana di atasnya. Sebelum Pak Waru meninggal ke delapan anaknya sudah menikah dan mengikuti pasangan mereka masing-masing. Setelah Pak Dadap meninggal yang masih ada di rumah itu Bu Dadap, anak ke lima yang belum menikah, anak kedua beserta seorang anak dan anak ke empat beserta suami dan dua anaknya.

Kehidupan penghuni rumah kesehariannya baik-baik saja, meskipun dalam kondisi kekurangan, sampai pada suatu ketika beberapa anaknya menghendaki pembagian warisan atas tanah dan rumah yang luasnya hanya 10 x 8 m² tersebut. Dapat dibayangkan betapa kaget dan sedihnya Ibu Dadap menghadapi sikap sebagian anak-anaknya ini, sejak ada keinginan pembagian warisan hampir setiap hari terjadi pertengkaran. Timbul masalah lagi setelah anaknya Bu Dadap yang ketiga beserta suami dan dua anaknya ikut tinggal dirumah itu, akhirnya rumah itu dihuni oleh 12 orang. Masalah bukannya terselesaikan akan tetapi bertambah parah, setelah anak Bu Dadap yang pertama juga datang dan tinggal di rumah itu juga dengan satu anak. Pertengkaran demi pertengkaran selalu mengiringi hari-hari di rumah itu. Oleh karena tidak tahan dengan situasi dan kondisi tersebut anak yang kedua beserta seorang anaknya keluar dari rumah itu, kemudian anak ke tiga beserta suami dan kedua anaknya juga keluar dari rumah itu, tetapi masalah belum juga reda sampai suatu hari terjadi adu fisik yang pada akhirnya pembagian warisan tidak terelakkan.

Mereka berusaha untuk membagi warisan namun gagal karena masih ada yang tidak puas atas kesepakatan yang sudah diputuskan, sampai pada akhirnya mereka sepakat untuk mendatangkan Ketua Rukun Tetangga, harapan mereka masalah ini segera terselesaikan dengan alasan malu dengan tetangga setiap hari kog terjadi pertengkaran. Keesokan harinya anak pertama dari keluarga ini datang ke rumah Ketua Rukun Tetangga dan meminta bantuan untuk menyelesaikan masalah mereka dan bertindak seadil-adilnya. Pak RT bersedia dengan catatan seluruh ahli waris harus berkumpul dan mereka setuju.

Keesokan harinya sesuai kesepaktan seluruh anak Bu Dadap berkumpul dan 2 orang anak yang tidak mau datang dan membuat pernyataan apapun hasil dari musyawarah tersebut mereka menerimanya. Dimulailah musyawarah tersebut dipimpin oleh Ketua RT. Pertama-tama yang dilakukan oleh Ketua RT adalah meminta semua yang hadir untuk menyampaikan pendapatnya, kemudian Ketua RT mengambil kesimpulan dari pendapat mereka, yaitu :

  • Tanah dibagi rata kepada 10 orang ( 9 anak + Ibu Dadap),
  • Bagian dari anak ke 1, 2, 6, 7, 8 dan 9 diberikan kepada anak ke 5 yang belum menikah,
  • Bagian dari anak ke 3 diberikan kepada Ibu Dadap.
  • Seluruh anak-anaknya harus keluar dari rumah itu kecuali Ibu Dadap dan anaknya ke 5.

Pembagian waris berjalan lancar dan semua pihak menerima hasil keputusan tersebut. Rumah tetap berdiri tegak oleh karena bagian dari ke delapan anak dan Ibu Dadap akhirnya dijadikan satu.

Masalah timbul lagi yaitu ketika anak yang ke empat beserta suami dan dua anaknya terpaksa tidak bisa keluar dari rumah itu karena kondisinya tidak memungkinkan untuk kontrak rumah apalagi membeli rumah. Akhirnya mereka tetap menempati bagian tanah yang hanya 2 x 2 m. Ketua RT beserta tetangga kanan kiri akhirnya gotong royong mendirikan rumah untuk anak Bu Dadap yang keempat ini. Untungnya di samping tanah warisan anak yang keempat ini masih ada tanah tetangga yang kosong, dan dengan suka rela meminjamkan kepada keluarga ini untuk memperluas bangunan yang diinginkan. Tetangga yang lain ada yang menyumbang tenaga, material misalnya kayu, bambu, batu bata, genting dan lain-lain, juga uang. Akhirnya sekitar dua minggu kemudian rumah itu berdiri dan sudah bisa ditempati serta sudah bisa menjalani kehidupan normal seperti tetangga yang lain. Meskipun masalah sudah bisa diatasi tetapi Bu Dadap masih saja sedih hatinya.

Juni 4, 2010 - Posted by | Masalah Sosial |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: