Pekerja Sosial Tuban

masalah sosial – pekerjaan sosial – ilmu sosial

Sosialisasi WKSBM dan LK3

Meskipun WKSBM sudah diperkenalkan sejak tahun 2004 oleh Departemen Sosial (sekarang Kementerian Sosial), namun demikian untuk Kabupaten Tuban, sosialisasi di tingkat kecamatan se-kabupaten baru bisa dilaksanakan tahun ini, tepatnya dimulai sejak hari ini tanggal 7 Nopember 2011, dengan sasaran pertama Kecamatan Kenduruan, kedua Kecamatan Jatirogo dan berikutnya bergilir sampai seluruh kecamatan di Kabupaten Tuban yang jumlahnya ada dua puluh dapat tuntas sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Sasaran sosialisasi di tiap-tiap kecamatan sebanyak 30 orang berasal dari unsur Tim Penggerak PKK Kecamatan dan Desa.

Kegiatan Sosialisasi WKSBM ini sekaligus dimanfaatkan untuk sosialisasi Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) yang nota bene juga baru kali pertama dilaksanakan di tingkat kecamatan.

Dengan dilaksanakan sosialisasi di atas diharapkan terjadi peningkatan kepedulian masyarakat dan bertambahnya mitra baru dalam penanganan masalah kesejahteraan sosial, sekaligus memberikan informasi tentang keberadaan Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) sebagai sebuah lembaga alternatif pemecahan masalah yang dihadapi oleh keluarga.

November 7, 2011 Posted by | Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial | | Tinggalkan komentar

Sosialisasi Lk3 Kabupaten Tuban

Hari ini, Rabu tanggal 12 Oktober 2011 Dinas Sosial, Tenaga Kerja, Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tuban melaksanakan sosialisasi Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) kabupaten Tuban di Resto Kayu Manis Tuban. Kegiatan tersebut dihadhiri oleh  sekitar 100an orang terdiri dari: Pengurus Dharma Wanita Kabupaten Tuban sebanyak 2 orang, Pengurus PKK Kabupaten Tuban Sebanyak 2 orang, Pengurus GOW Kabupaten Tuban sebanyak 2 orang, Pengurus PPT Kabupaten Tuban sebanyak 2 orang, Pengurus KPPA POLRES Tuban sebanyak 2 orang, Pengurus PKK Kecamatan se-Kabupaten Tuban sebanyak 40 orang, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan sebanyak: 20 orang dan Pengurus PKK Kelurahan dan desa se-Kecamatan Tuban sebanyak 34 0rang.

Tujuan sosialisasi adalah tersebarnya informasi mengenai LK3 Kabupaten Tuban ke khalayak yang lebih luas dan memanfaatkan keberadaan LK3 sebagai suatu lembaga atau organisasi yang memberikan pelayanan konseling, konsultasi, pemberian informasi, penjangkauan, perlindungan dan pendampingan bagi keluarga yang mengalami permasalahan.

Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan Sosialisasi Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) kabupaten Tuban adalah Terwujudnya sinergi antara berbagai elemen dalam masyarakat dalam rangka mencegah, mengurangi atau meminimalisir terjadinya permasalahan dalam keluarga, mengingat sejak berdiri tahun 2009, LK3 Kabupaten Tuban baru kali ini bisa menyelenggarakan sosialisasi yang sasarannya mencakup seluruh perwakilan kecamatan se-Kabupaten Tuban. Berikut ini Sambutan Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja, Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tuban dalam acara sosialisasi tersebut.

Oktober 12, 2011 Posted by | Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial | | Tinggalkan komentar

Karang Taruna oh… Karang Taruna (bag 3)

Hasil dari Temu Karya II Karang Taruna Kabupaten Tuban Tahun 2011 di Ruang Rapat Bidang Sosial pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja, Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tuban menyepakati bahwa Sdr Nur Ahsan, S.Pd sebagai Ketua Pengurus Karang Taruna Kabupaten Tuban periode 2011 – 2016. Untuk melengkapi kepengurusan selanjutnya dibentuk Tim Formatur yang bertugas memilih orang-orang yang akan duduk di dalam kepengurusan yang diambilkan dari unsur Karang Taruna Kecamatan maupun dari luar, adapun nama-nama yang masuk adalah Sebagai berikut:

Selanjutnya Draft Pengurus Karang Taruna Kabupaten Tuban hasil dari Rapat Tim Formatur tersebut sekarang masih dalam proses pengajuan persetujuan dari Bupati Tuban.

September 29, 2011 Posted by | Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial | | 2 Komentar

Karang Taruna oh… Karang Taruna (bag 2)

Sesuai yang direncanakan bahwa pada Rabu tanggal 14 September 2011 dilaksanakan pertemuan Ketua dan Sekretaris Kecamatan se-Kabupaten Tuban, yang tidak dapat hadir hanya dari dua kecamatan yaitu dari Kecamatan Kerek dan Kecamatan Jatirogo.

Pertemuan tersebut disepakati sebagai Temu Karya II Karang Taruna Kabupaten Tuban tahun 2011, dengan mencermati 3 (tiga) dokumen penting yang harus disikapi dalam Temu Karya tersebut, dokumen tersebut, yaitu:

  1. Draft SK BUPATI TUBAN tentang Pengukuhan Pengurus Karang Taruna Tingkat Kabupaten Tuban (hasil Temu Karya I Karang Taruna Kabupaten Tuban tanggal 16 Juni 2007 di BLK Tuban;
  2. Hasil Rapat Ketua Pengurus Karang Taruna Kecamatan se-Kabupaten Tuban pada tanggal 10 April 2008 di Pendopo Kecamatan Grabagan;
  3. Surat Sdr. Nur Ahsan, S.Pd Kepada Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja, Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tuban perihal Permohonan Rekomendasi Ke II.

Agar pelaksanaan Temu Karya II Karang Taruna Kabupaten Tuban Tahun 2011 berjalan efektif dan efisien, maka panitia membagi peserta temu karya menjadi 3 (tiga) kelompok dengan tugas:

  1. Meminta pendapat kelompok dalam mencermati 3 (tiga) dokumen tersebut?
  2. Meminta rekomendasi kelompok dalam mencermati 3 (tiga) dokumen tersebut?

Hasil Musyawarah dari :

KELOMPOK I

Kelompok I berpendapat bahwa:

  1. Berdasarkan Temu Karya I Karang Taruna Kabupaten Tuban tanggal 16 Juni 2007, proses dari awal hingga akhir tidak ada cacat hukum, berarti tetap sah;
  2. Menyikapi hasil Rapat Ketua Pengurus Karang Taruna Kecamatan se-Kabupaten Tuban pada tanggal 10 April 2008 di Pendopo Kecamatan Grabagan merupakan dinamika organisasi yang perlu dijadikan referensi untuk kemajuan organisasi;
  3. Draft usulan Sdr. Nur Ahsan, S.Pd Kepada Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja, Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tuban perihal Permohonan Rekomendasi Ke II, merupakan langkah solusi yang diambil untuk kembali memacu semangat Karang Taruna bangun dan bangkit dari kevakuman, tetapi perlu ada perbaikan dan pembenahan.

Kelompok I memberikan rekomendasi, yaitu:

  1. Mengakui secara sah Temu Karya I Karang Taruna Kabupaten Tuban tanggal 16 Juni 2007 dan mengakui Sdr. Nur Ahsan, S.Pd terpilih sebagai ketua;
  2. Penentuan struktur organisasi perlu ada perombakan;
  3. Perlu adanya pengukuhan kembali Sdr. Nur Ahsan, S.Pd secara aklamasi yang diperkuat dengan Berita Acara dan ditandatangani oleh masing-masing Ketua Karang Taruna Kecamatan atau yang mewakili.

KELOMPOK II

Kelompok II berpendapat bahwa:

Draft SK BUPATI TUBAN tentang Pengukuhan Pengurus Karang Taruna Tingkat Kabupaten Tuban tidak sesuai dengan hasil Temu Karya I Karang Taruna Kabupaten Tuban tanggal 16 Juni 2007 di BLK Tuban, intinya tidak diterima;

Hasil Rapat Ketua Pengurus Karang Taruna Kecamatan se-Kabupaten Tuban pada tanggal 10 April 2008 di Pendopo Kecamatan Grabagan, tidak diterima;

Menerima draft Permohonan Rekomendasi II terkait surat dari Saudara Nur Ahsan sebagai Ketua Karang Taruna Kabupaten Tuban hasil Temu Karya I Karang Taruna Kabupaten Tuban tanggal 16 Juni 2007 di BLK Tuban

Kelompok II memberikan rekomendasi, yaitu:

Terkait Susunan Pengurus Karang Taruna 2011 – 2016, Saudara-saudara yang hadir hari ini (Rabu tanggal 14 September 2011) diharapkan bisa masuk di dalam kepengurusan/sesuai dengan daftar hadir.

KELOMPOK III

Kelompok III berpendapat bahwa:

  1. Draft SK BUPATI TUBAN tentang Pengukuhan Pengurus Karang Taruna Tingkat Kabupaten Tuban tidak sesuai dengan hasil Temu Karya I Karang Taruna Kabupaten Tuban tanggal 16 Juni 2007 di BLK Tuban;
  2. Hasil Rapat Ketua Pengurus Karang Taruna Kecamatan se-Kabupaten Tuban pada tanggal 10 April 2008 di Pendopo Kecamatan Grabagan, tidak ada;
  3. Permohonan Rekomendasi II sesuai dengan kepengurusan inti dan di seksi-seksi diserahkan kepada Tim (Pengurus Inti).

Kelompok III memberikan rekomendasi, yaitu:

  1. Pada intinya sepakat pada hasil Temu Karya I Karang Taruna Kabupaten Tuban tanggal 16 Juni 2007 dan menolak draft SK BUPATI TUBAN No: 188.45/    /KPTS?414.012/2006 dan mengembalikan mandat sesuai hasil Temu Karya I.

Karang Taruna oh… Karang Taruna (bag 1)

September 15, 2011 Posted by | Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial | | 2 Komentar

Karang Taruna oh… Karang Taruna (bag 1)

Karang Taruna oh…Karang Taruna adalah sebuah ungkapan belas kasih untuk Karang Taruna Kabupaten Tuban dalam upayanya menempuh jalan berliku guna mendapatkan penetapan dan pengesahan sekaligus pengukuhan sebagai organisasi sosial wadah pengembangan generasi muda yang mampu menampilkan karakteristiknya melalui cipta, rasa, karsa dan karya di bidang kesejahteraan sosial.

“Pengurus dilingkup Kabupaten/Kota yang disahkan dalam Temu Karya Kabupaten/Kota adalah sebagai pengembangan jaringan komunikasi, kerjasama informasi dan kolaborasi antar Karang Taruna dalam lingkup/wilayah Kabupaten/Kota dan dikukuhkan oleh Bupati/Walikota setempat.” Begitulah bunyai dari Bab VI Pasal 6 ayat (3) c PERMENSOS RI. Nomor: 83/huk/2005 tentang Pedoman Dasar Karang Taruna.

Saat ini berbunyi “Forum Pengurus Karang Taruna Kabupaten/Kota dipilih, ditetapkan, dan disahkan dalam Temu Karya Karang Taruna kabupaten/kota dan dikukuhkan oleh Bupati/Walikota, dengan masa bhakti 5 (lima) tahun; “ pada BAB IV Pasal 10 ayat (3) b PERMENSOS RI Nomor : 77/HUK/2010 tentang Pedoman Dasar Karang Taruna.

Aku tidak hendak membicarakan perubahan PERMENSOS tersebut, namun sedikit kilas balik perjalanan Karang Taruna Kabupaten Tuban dalam rangka untuk mendapatkan penetapan dan pengesahan, sekaligus dikukuhkan sebagai Pengurus Karang Taruna Kabupaten Tuban.

Pada tanggal 16 Juni 2007 telah diselenggarakan Temu Karya I Karang Taruna Kabupaten Tuban, dengan dihadiri oleh 3 orang utusan dari masing-masing 20 Pengurus Karang Taruna Kecamatan yang ada di Kabupaten Tuban, membuahkan hasil sebuah “Pengurus Karang Taruna Kabupaten Tuban” dengan masa bhakti 2007 – 2012. Adalah suatu kegembiraan bagi orang-orang yang peduli dengan nasib generasi muda (Karang Taruna) yang sebelumnya bak “mati segan, hidup tak mau”.  Sebagai ungkapan kegembiraan dan simpati akan suksesnya Temu Karya I Karang Taruna Kabupaten Tuban, maka serangkaian kegiatan lanjutan berikutnya adalah Pelantikan Pengurus Karang Taruna Kabupaten Tuban, direncanakan pada tanggal 1 September 2007 di sebuah “Gedung Pertemuan” di jalur strategis tengah kota sekaligus sebagai ajang promosi. 250 undangan telah disebar untuk 200 pengurus harian Karang Taruna Kecamatan se-Kabupaten Tuban dan 50 undangan untuk Tokoh Masyarakat, seluruh rangkaian acara seremoni telah siap termasuk naskah “sambutan Bupati”, tiba-tiba acara dibatalkan tanpa sebab sehari menjelang pelantikan. Semua menjadi berantakan….

Menyikapi hal tersebut di atas, Ketua Pengurus Karang Taruna Kecamatan se-Kabupaten Tuban pada tanggal 10 April 2008 mengadakan pertemuan bertempat di Pendopo Kecamatan Grabagan Kabupaten Tuban dan memutuskan/menetapkan:

  1. Pencabutan mandat yang diberikan kepada Ketua Terpilih hasil Temu Karya I Karang Taruna Kabupaten Tuban tanggal 16 Juni 2007 karena Ketua terpilih tidak bisa memenuhi kewajibannya mendapatkan Surat Keputusan Bupati Tuban,
  2. Menggagalkan seluruh isi dari keputusan yang telah diambil melalui Temu Karya I Karang Taruna Kabupaten Tuban tanggal 16 Juni 2007,
  3. Temu Karya I Karang Taruna Kabupaten Tuban tanggal 16 Juni 2007 kami nyatakan tidak menghasilkan keputusan, sehingga akibat hukum yang timbul adalah belum terpilihnya Ketua Karang Taruna Kabupaten Tuban,
  4. Ketua Karang Taruna Kecamatan se-Kabupaten Tuban membentuk kembali Pengurus Karang Taruna Kabupaten Tuban.
  5. Mengusulkan 5 nama untuk dipilih salah satu guna mendapatkan persetujuan sebagai Ketua Pengurus Karang Taruna Kabupaten Tuban periode 2008 – 2013.

Namun demikian apa yang sudah dilakukan oleh Ketua Karang Taruna Kecamatan se-Kabupaten Tuban itu untuk memecah kebuntuan, juga tidak mendapatkan respon dari “Pengambil Keputusan”, sampai pada akhirnya vakum. Belakangan ini gagasan untuk mendapatkan Pengurus Karang Taruna Kabupaten Tuban timbul kembali dan mendapat respon positif dari Pembina Fungsional Karang Taruna, direncanakan pada tanggal 14 September 2011 Ketua dan Sekretaris Karang Taruna Kecamatan se-kabupaten Tuban mengadakan pertemuan di Ruang Rapat Bidang Sosial pada Dinas Sosial,Tenaga Kerja, Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tuban dengan agenda tunggal membahas “kepengurusan Karang Taruna Kabupaten Tuban”.

Selamat bermusyawarah ………. Semoga tidak sia-sia lagi

September 12, 2011 Posted by | Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial | | Tinggalkan komentar

Bimbingan dan Latihan Ketrampilan Karang Taruna

Bimbingan dan Latihan Ketrampilan Karang Taruna. Fungsi Karang Taruna adalah penyelenggara kegiatan pengembangan jiwa kewirausahaan dengan memupuk kreatifitas generasi muda untuk dapat mengembangkan tanggung jawab sosialnya yang bersifat rekreatif, kreatif, edukatif, ekonomi produktif dan kegiatan praktis lainnya. Sehubungan dengan hal tersebut Dinas Sosial, Tenaga Kerja Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tuban bekerjasama dengan UPT PSRT Bojonegoro mengadakan seleksi Calon Penerima Pelayanan Angkatan II Tahun 2011 di UPT PSRT Bojonegoro yang telah dilaksanakan pada tanggal 21 Juni 2011 di Dinas Sosial, Tenaga Kerja Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tuban, diikuti oleh 39 Anggota Karang Taruna dari berbagai kecamatan di Kabupaten Tuban antara lain: 4 anak dari Kecamatan Montong, 3 anak dari Kecamatan Soko, 1 anak dari Kecamatan Parengan, 11 anak dari Kecamatan Grabagan, 9 anak dari Kecamatan Rengel, 1 anak dari Kecamatan Plumpang, 2 anak dari Kecamatan Kenduruan, 3 anak dari Kecamatan Senori, 3 anak dari Kecamatan Kerek, 1 anak dari Kecamatan Jenu, 1 anak dari Kecamatan Singgahan.

Oleh karena keterbatasan sarana dan prasarana dari 39 anak peserta seleksi tersebut yang diterima 19 anak dan pada tanggal 4 Juli 2011 mulai masuk untuk mengikuti Bimbingan dan latihan ketrampilan di UPT PSRT Bojonegoro selama 6 bulan, berikut ini nama-nama yang lolos seleksi:

  1. TRI ANDAYANI Ds. Margorejo Kec. Kerek
  2. SITI HIMATUS SHOLIHAH Ds. Bringin Kec. Montong
  3. SITI UMI FAIZAH Ds. Bringin Kec. Montong
  4. PARWITO Ds. Jarorejo Kec. Kerek
  5. MOH. ROHIM Ds. Maindu Kec. Montong
  6. M. KHOIRUMAN Ds. Banyubang Kec. Grabagan
  7. MOH. IRWAN Ds. Sambonggede Kec Merakurak
  8. M. KHOIRUL ANWAR Ds. Sembung Kec. Parengan
  9. M. KHOIRUL HUDA Ds. Bringin Kec. Montong
  10. LASMINTO Ds. Sembung Kec. Parengan
  11. MEI SRIWAHYUNI Ds. Bulurejo Kec. Rengel
  12. DWI APRILIYA SARI Ds. Banjaragung Kec. Rengel
  13. ABDUL ASBARI Ds. Sidohasri Kec. Kenduruan
  14. MISBAKHUL ANAM Ds. Saringembat Kec. Singgahan
  15. ERLIANA PUTRI K.L Ds. Margorejo Kec. Kerek
  16. EDI SANTOSO Ds. Sokosari Kec. Soko
  17. INDAH AYU Ds. Sumurcinde Kec. Soko

Sumber: Dinsosnakerduk dan Capil Kab. Tuban

jika Anda atau orang-orang yang Anda kenal butuh informasi pelatihan seperti ini, silahkan menghubungi Dinas Sosial setempat di kota Anda.

Juli 5, 2011 Posted by | Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial | | Tinggalkan komentar

Pelatihan TKSK

Pada tanggal 13 – 20 Juni 2011 Dinas Sosial, Tenaga Kerja, Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tuban mengirim perwakilan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) untuk mengikuti Pelatihan Perencanaan dan Pengorganisasian Kegiatan Kesejahteraan Sosial Anggkatan IV yang diseleenggarakan oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur bertempat di UPT Pengembangan Tenaga Kesejahteraan Sosial (PTKS) Jalan Panglima Sudirman 93 Malang. Berikut ini aku sajikan hasil pembulatan kegiatan tersebut, yaitu:

PEMBULATAN PELATIHAN PERENCANAAN DAN PENGORGANISASIAN KEGIATAN KESEJAHTERAAN SOSIAL ANGKATAN IV DI UPT PTKS MALANG TAHUN 2011

  1. Mengingat tugas dan fungsi TKSK sangat berat, maka pelatihan Perencanaan dan Pengorganisasian Kegiatan Kesejahteraan Sosial yang telah dilaksanakan di UPT Pengembangan Tenaga Kesejahteraan Sosial dapat mendukung program dan kegiatan terutama dalam program pengentasan kemiskinan.
  2. Dengan Pelatihan yang dititik beratkan pada Teknik Partisipatory Rural Approach (Teknik PRA) ini sejalan dengan Strategi Pembangunan Provinsi Jawa Timur yang menitik beratkan  Pembangunan pada Manusia (People Centered Development) dan Partisipatory  Based Development (Pembangunan yang berbasis Partisipasi Masyarakat).
  3. Dengan Pelatihan ini diharapkan TKSK mampu melakukan pemetaan PMKS by Name, By Adrress, by caracter, serta mampu melakukan pemetaan PSKS sebagai sumber rujukan penanganan PMKS di wilayah tugasnya.
  4. TKSK diharpakan mampu melaksanakan koordinasi sebagai wujud nyata implementasi program lintas sektor sebagai bahan rujukan penanganan PMKS.
  5. Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan TKSK mempunyai komitmen terhadap tugas yang menjadi tanggung jawabnya mulai dari perencanaan program, pelaksanaan sampai pada tahap pelaporan kegiatan kesejahteraan sosial di wilayahnya.

TKSK MENERIMA BANTUAN TRANSPORT

Jumat tanggal 26 Agustus 2011 TKSK menerima bantuan transport perbulan Rp. 200.000/bulan mulai Januari sampai Agustus 2011 dan dalam pelaksanaannya besok akan diterimakan sejumlah 4 bulan dan sisanya diterimakan pada bulan September 2011 setelah pendataan lanjut usia tidak mampu yang menjadi tanggungan warga sekitar selesai dan dilaporkan oleh teman-teman TKSK ke Dinas Sosial, Tenaga Kerja, Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tuban.

Juni 28, 2011 Posted by | Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial | | Tinggalkan komentar

Kegiatan Penguatan Masyarakat Dalam Penaggulangan Bencana

Badan Nasional Penanggulangan Bencana kemarin tanggal 16 – 17 Mei 2011 telah melaksanakan Kegiatan Penguatan Masyarakat Dalam Penaggulangan Bencana Untuk Membentuk Desa Tangguh yang dilaksanakan dan bekerja sama dengan Pemerintah Desa Mojoagung Kecamatan Soko Kabuapten Tuban. Melibatkan lebih dari 100 orang peserta, dari semua unsur dalam masyarakat antara lain: dari pihak Dinas Sosial, Kepolisian, TNI, Dinas Kesehatan, Guru, Pelajar SMU, TAGANA, dan perwakilan masyarakat dan perangkat desa se Kecamatan Soko. Kegiatan ini dimaksudkan agar masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana agar lebih siap dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana. Mau dan mampu melibatkan diri baik secara pribadi maupun bersama-sama masyarakat lainnya dalam penanggulangan bencana.

Adapun keterlibatkan TAGANA TUBAN, disamping sebagai peserta juga memberi Materi dalam kegiatan tersebut, antara lain:

  1. Pelatihan Dapur Umum;
  2. Rescue;
  3. Selter;
  4. Pertolongan Pertama.

Mei 18, 2011 Posted by | Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial | | 4 Komentar

Pemutakhiran Data Program TKSK

Hari ini teman-teman Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan di Kabupaten Tuban memperbaharui data (mengisi formulir pendataan TKSK). Hal ini untuk menindaklanjuti surat dari Direktorat Jenderal Pemberdayaan dan Kelembagaan Sosial RI Nomor:314?DYS-PK/PKKS/IV/2011 perihal Pemutakhiran Data Program PKKS. Semoga dengan pemutakhiran data ini teman-teman TKSK mendapat kejelasan dan payung hukum yang pasti dalam menunaikan tugas selanjutnya. Terlepas dari segala kekurangan-kekurangan yang ada pada diri TKSK, namun kenyataannya dengan keberadaan TKSK sangant membantu Pemerintah dalam melaksanakan pembangunan, khususnya pembangunan kesejahteraan sosial. Di Kabupaten Tuban dengan keberadaan TKSK, masyarakat mendapat informasi lebih baik mengenai program pelayanan kesejahteraan sosial, dibuktikan dengan semakin banyak penyandang masalah kesejahteraan sosial yang tertangani misalnya penanganan penyandang cacat, gangguan jiwa, anak putus sekolah, keluarga miskin dan lain-lain.

Pada hari ini tanggal 9 Mei 2011 formulir data TKSK di kirim ke Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, namun demikian sampai saat ini ada 3 TKSK  yang belum memperbaharui data, yaitu TKSK Kecamatan Jatirogo, TKSK Kecamatan Merakurak dan TKSK Kecamatan Tuban. Berdasarkan keterangan, untuk TKSK Kecamatan Jatirogo mengundurkan diri karena sudah menjadi perangkat desa dan akan fokus jabatan barunya ini, untuk TKSK Kecamatan Merakurak mengundurkan diri karena sudah pemberkasan menjadi PNS dan untuk TKSK Kecamatan Tuban belum ada keterangan.

Mei 2, 2011 Posted by | Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial | | 5 Komentar

Perilaku Sosial

PERILAKU SOSIAL

Barangkali lebah madu dapat dijadikan perumpamaan bagi perilaku manusia (maksudnya disini adalah sikap/perilaku seseorang terhadap lingkungan pergaulan di dalam masyarakat/Perilaku Sosial). jenis serangga dengan nama ilmiah “Apis melifera” ini memiliki banyak kelebihan di antaranya : lebah makan dari makanan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih (madu) dan tidak merusak atau mematahkan yang dihinggapi.

Makan,

Semua kebutuhan hidupnya didapat dari hasil usaha/jerih payahnya sendiri, dikelola dengan baik dan dipergunakan dengan baik pula dan berupaya mendapatkan nilai tambah. Sebagaimana lebah mengumpulkan serbuk sari, cairan dan air dari bunga yang bermacam-macam jenisnya kemudian kembali ke sarang dan memprosesnya menjadi madu yang juga dapat dimanfaatkan oleh manusia sebagai obat dari berbagai penyakit.

Memberi,

Apapun yang diberikan kepada orang lain adalah pemberian yang baik. Jika ia memberi informasi kepada orang lain, maka informasi itu bermanfaat (tidak menyesatkan). Jika memberi dalam bentuk materi, maka materi tersebut tidak merugikan, apalagi mencelakakan. Jika menolong, maka pertolongan yang diberikan adalah pertolongan yang tulus, tidak ada udang dibalik batu. Kehidupannya selalu bermanfaat bagi orang lain. Demikian juga madu yang dihasilkan oleh lebah, manusia mulai dari nenek moyang kita telah membuktikan manfaat madu untuk menyembuhkan bergai penyakit, dan lebah tidak menuntut apa-apa terhadap madu yang diambil oleh manusia.

Tidak mematahkan/merusak yang dihinggapi,

Dimanapun berada, dia selalu dapat diterima lingkungannya, kehadirannya sama sekali tidak merusak tatanan yang berlaku, justru memberi manfaat bagi lingkungannya. Mampu menempatkan diri, menyadari kemampuan dirinya dan menerima peran yang harus dilakukan dalam komunitas. Lebah, dalam satu koloni terdiri dari 20000 sampai 60000 ribu lebah pekerja dan satu lebah ratu, jika mereka hinggap tidak mematahkan atau merusak kayu yang dihinggapinya, meskipun kayu dalam kondisi rapuh sekalipun, hinggap di bunga-bunga yang ada dan tidak merusaknya, bahkan membantu proses pembuahan pada tumbuhan dengan memindahkan serbuk sari dari kepala sari ke kepala putik.

PERILAKU A SOSIAL

Pengertian perilaku asosial di sini adalah tidak memiliki kepedulian terhadap kepentingan atau kebutuhan lingkungannya. Kemampuan yang dimiliki, usaha yang dilakukan, kekayaan yang didapat hanya untuk kepentingannya sendiri, praktis seluruh hidupnya hanya untuk kepentingan sendiri. Tidak peduli terhadap orang-orang lemah, tidak berdaya yang membutuhkan pertolongan. Perilaku asosial memiliki kecenderungan jika mau menolong atau membantu, maka akan memastikan apakah akan mendapatkan imbalan yang setimpal bahkan lebih, jika tidak, tentu tidak akan dilakukannya. Yang ada dalam pikirannya selalu mengenai untung dan rugi, kalau untung akan dilakukan, jika rugi akan dihindari. Jika dipakai alat ukur salah dan benar, maka perilaku seperti ini tidak salah, tetapi tidak benar juga. Tidak salah karena apa yang dimiliki, usaha yang dilakukan, kekayaan yang didapat cenderung tidak merugikan orang lain (istilah : “tidak urus, yang penting aku tidak merugikan orang lain”). Tidak benar, oleh karena posisi berada di lingkungan komunitas atau masyarakat yang cenderung tidak semua dalam kondisi beruntung, sehingga tidak butuh bantuan atau pertolongan pihak lain. Tetapi realita yang terjadi adalah ada sebagian dari anggota komunitas atau masyarakat butuh bantuan atau pertolongan orang lain.

Sebagai contoh misalnya : ada keluarga miskin yang di dalam rumah itu ada ibu yang mau melahirkan, oleh karena situasi dan kondisi tidak mungkin untuk segera sampai ke rumah bersalin, maka yang harus dilakukan dari keluarga ini adalah minta bantuan orang lain yang memiliki kendaraan. Di lingkungan itu yang memiliki mobil di rumah adalah si asosial, maka apa yang dikatakan ketika salah satu anggota keluarga ini datang untuk pinjam mobil, apa yang dikatakan oleh si asosial, kurang lebih akan seperti ini “salah sendiri, kena apa kalau sudah tahu akan melahirkan tidak segera datang ke rumah bersalin, malah santai di rumah”, tidak bisa tidak boleh, aku sibuk, cari pinjaman ke tetangga lain saja.

Contoh lain misalnya : Di lingkungan asosial, beberapa warga sepakat melaksanakan gotong royong memperbaiki rumah tidak layak dihuni milik janda tua dan sudah tidak memiliki sanak famili. Ketika waktu yang ditentukan telah tiba, maka si asosial akan pergi dengan berbagai alasan tanpa rasa malu, tidak mau menengok walau hanya untuk memberi sedikit makanan kecil.

PERILAKU ANTI SOSIAL

Pengertian Anti Sosial yang dimaksudkan disini adalah sikap/perilaku menyimpang dari pranata atau norma yang berlaku dalam masyarakat dan cenderung merugikan orang lain. Hidupnya tidak nyaman jika tidak mengganggu orang/pihak lain, perilaku seperti ini akan merasa puas jika sudah dapat memastikan orang/pihak lain terganggu, tersakiti.

Barang kali dapat dipakai sebagai contoh adalah ketika Gunung Merapi meletus beberapa waktu lalu, ketika warga sekitar Gunung Merapi berupaya menyelamatkan diri dan keluarganya pergi ke tempat yang aman/mengungsi dan tidak sempat membawa harta benda. Ada sekelompok orang yang memanfaatkan situasi tersebut dengan dalih ikut membantu warga yang terkena musibah, sekelompok orang ini mengangkut hewan ternak milik warga yang mengungsi dengan memakai kendaraan truck. Sukurlah gerak gerik sekelompok orang ini diketahui warga dan pihak keamanan,  kemudian ditangkap.

Contoh lain untuk menggambarkan perilaku Anti Sosial seperti berikut ini : Desa A adalah termasuk kategori desa tandus, yang disebabkan oleh tidak adanya sumber air. Sedangkan Desa B adalah termasuk kategori desa yang subur, oleh karena di Desa B terdapat sumber air yang melimpah. Salah satu warga di Desa A mengutarakan inisiatif kepada Kepala Desa yang isinya “bagaimana kalau membuat saluran air dengan memakai pipa, sedangkan airnya diambilkan dari sumber mata air yang berada di Desa B”, Kepala Desa setuju. Kemudia Kepala Desa mengumpulkan seluruh Ketua Rukun Tetangga, Rukun Warga termasuk tokoh masyarakat, guna membahas inisiatif salah satu warganya tersebut. Dalam pembahasan disepakati mengenai rencana kerja termasuk pembagian tugas masing masing warga dan biaya yang harus ditanggung bersama oleh seluruh warga Desa A. Utusan yang dikirim ke Desa B pulang dan membawa khabar bahwa Warga Desa B tidak keberatan jika Warga Desa A mau mengambil air dari mata air yang berada di Desa B. Setelah hari pelaksanaan pekerjaan tiba mulailah Warga Desa A gotong royong mengangkut pipa pipa yang sudah dipersiapkan sebelumnya ke sumber mata air. Oleh karena dalam pengerjaan pasang pipa tersebut tidak cukup dikerjakan dalam satu atau dua hari, maka ketika senja mulai tiba warga Desa A pulang, begitu setiap hari, dan membiarkan pipa pipa tersebut begitu saja tanpa ada yang mengawasi. Rupanya di Desa B ada sebagian warga yang tidak setuju dengan kegiatan ini, maka sekelompok orang ini berencana menggagalkan pemasangan pipa yang sedang dikerjakan oleh warga Desa A. Mulailah mereka melancarkan aksinya, ketika malam tiba sekelompok orang ini mulai bergerak mencuri pipa yang ditinggal istirahat oleh Warga A. Pagi mulai tiba dan warga Desa A beranjak berdatangan ke lokasi pemasangan pipa, mereka terperangah dan bingung ketika mendapati pipa pipa sudah tidak ada di tempatnya. Sedangkan dari kejauhan, sekelompok warga Desa B yang telah mencuri pipa pipa tersebut tertawa puas.

Nyamuk menghisap darah manusia hanya sekedar mengambil protein yang terkandung dalam darah untuk membantu telor berkembang guna kelangsungan spesiesnya. Sedangkan manusia mengsisap darah sesamanya tanpa belas kasihan, bahkan ada yang sampai kehabisan darah.

April 22, 2011 Posted by | Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial | , | 2 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.